Dari Lapas Lhoknga, Kakanwil Ditjenpas Aceh Dorong Kemandirian dan Ketahanan Pangan

Lhoknga – Pembinaan kemandirian di lingkungan Pemasyarakatan Aceh terus dikembangkan melalui program produktif yang memberikan keterampilan nyata bagi Warga Binaan. Salah satunya melalui Budidaya Ayam Petelur yang dikembangkan di Lapas Kelas III Lhoknga.
Program tersebut secara resmi diresmikan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Aceh, Ramdani Boy, sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan kemandirian sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional, Rabu (16/09/2026).
Peresmian ditandai dengan penandatanganan oleh Kakanwil Ditjenpas Aceh sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kegiatan produktif di Lapas Kelas III Lhoknga. Kegiatan turut dihadiri unsur TNI/Polri serta jajaran terkait yang selama ini menjadi bagian dari sinergi dalam mendukung pelaksanaan tugas Pemasyarakatan.
“Pembinaan kemandirian harus memberikan bekal yang nyata bagi Warga Binaan. Budidaya ayam petelur ini bukan hanya tentang menghasilkan telur, tetapi bagaimana Warga Binaan mendapatkan pengalaman, keterampilan, dan rasa tanggung jawab yang dapat menjadi modal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Ramdani Boy.
Menurutnya, program pembinaan yang produktif perlu terus dikembangkan dengan memperhatikan potensi masing-masing satuan kerja. Dengan demikian, kegiatan pembinaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Saya berharap program ini dikelola secara serius, berkelanjutan, dan terus dikembangkan. Jangan hanya berhenti pada peresmian, tetapi harus ada proses, hasil, evaluasi, dan peningkatan dari waktu ke waktu,” tegasnya.
Usai prosesi peresmian, Kakanwil Ditjenpas Aceh bersama para tamu undangan turut melakukan panen hasil budidaya ayam petelur. Kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa program pembinaan kemandirian di Lapas Lhoknga telah diarahkan pada kegiatan yang bersifat produktif dan memiliki hasil nyata.

Kalapas Kelas III Lhoknga, Husni, mengatakan bahwa budidaya ayam petelur menjadi salah satu bentuk komitmen jajarannya dalam menghadirkan program pembinaan yang dapat meningkatkan keterampilan Warga Binaan.
“Kami ingin Warga Binaan tidak hanya mengikuti pembinaan secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung. Mulai dari pemeliharaan ayam, pengelolaan pakan, menjaga kebersihan kandang, perawatan hingga proses panen, semuanya menjadi bagian dari pembelajaran,” kata Husni.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan dapat terus berkembang sehingga memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi Warga Binaan maupun lingkungan Lapas.
“Kami akan terus berupaya mengembangkan program ini agar semakin produktif dan berkelanjutan. Harapannya, keterampilan yang diperoleh Warga Binaan dapat menjadi bekal untuk mereka ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Budidaya ayam petelur juga menjadi bagian dari kontribusi Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Melalui pengelolaan yang baik, kegiatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk pangan sekaligus menjadi media pembelajaran kerja bagi Warga Binaan.
Ramdani Boy turut mendorong agar keberhasilan program-program produktif di satuan kerja dapat menjadi inspirasi bagi Lapas dan Rutan lainnya di Aceh.
“Saya berharap apa yang dilakukan Lapas Lhoknga dapat menjadi motivasi bagi UPT Pemasyarakatan lainnya. Mari kita kembangkan program pembinaan yang produktif sesuai potensi masing-masing, sehingga Warga Binaan memperoleh keterampilan dan Pemasyarakatan juga dapat berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya.
Dengan diresmikannya Budidaya Ayam Petelur tersebut, Lapas Kelas III Lhoknga menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan kemandirian yang produktif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan keterampilan Warga Binaan sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah selesai menjalani masa pidana.





